Minggu, 12 Juni 2022

KELOMPOK 12

 i

ETIKA GURU TERHADAP MASYARAKAT

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah

“Etika dan Profesi Keguruan”

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M. Ag

Disusun Oleh Kelompok 12/PAI F:

1.  Neli Sugiarti    (201190188)

2.  Novita Febrianti  (201190203)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2022

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan 

segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul  Etika 

Guru Terhadap Masyarakat. Kami juga  mengucapkan terima kasih kepada  Ibu 

Prof. Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M. Ag.  selaku dosen pengampu kami yang telah 

memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan 

pengetahuan khususnya dalam masalah Etika Guru Terhadap Masyarakat.

Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun 

ini bisa memberikan banyak manfaat serta menambah. Selain itu, kami menyadari 

bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan yang membutuhkan 

perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik dari para 

pembaca.

Ponorogo, 30 April 2022

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ...........................................................................................  i

KATA PENGANTAR  ........................................................................................  ii

DAFTAR ISI  .....................................................................................................  iii

BAB I PENDAHULUAN  ...................................................................................  1

A.  Latar Belakang  .........................................................................................  1

B.  Rumusan Masalah  ....................................................................................  2

C.  Tujuan  ......................................................................................................  2

BAB II PEMBAHASAN  ....................................................................................  3

A.  Pengertian Guru  .......................................................................................  3

B.  Pengertian Masyarakat  .............................................................................  4

C.  Etika Guru Terhadap Masyarakat  .............................................................  6

BAB III PENUTUP  ..........................................................................................  11

A.  Kesimpulan  ............................................................................................  11

DAFTAR PUSTAKA  .......................................................................................  12

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Guru yang profesional sangat besar  peranannya di dalam 

mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu 

peningkatan profesional tersebut adalah mendefinisikan kembeli kode etik 

guru Indonesia yang akan menjadi arah atau pedoman bagi guru dalam 

menjalankan tugasnya. Kode etik guru sebenarnya merupakan pedoman 

bagi guru untuk tetap profesional.  Guru merupakan sosok sentral dalam 

pendidikan. Dengan guru maka peserta didik mampu mendapatkan hal 

baru yang dapat membantunya untuk bisa bertahan dalam persaingan 

kehidupan ini. Adanya guru tentu saja sangat berperan dalam 

perkembangan pendidikan yang ada. Selain itu, tentu saja semua perilaku 

yang ada dalam diri seorang guru menjadi contoh bagi muridnya. Disisi 

lain, seorang guru itu sendiri juga harus memiliki etika demi mewujudkan 

dan  meningkatkan profesionalismenya sebagai guru. Karena guru 

merupakan suatu profesi yang harus dibanggakan. 

Guru dalam pandangan masyarakat juga merupakan sosok yang 

luar biasa berpengaruh. Karena menurut masyarakat guru merupakan 

sosok yang mampu membuat perubahan dan perbaikan bagi kondisi 

masyarakat yang ada. Selain pada masyarakat, tentu seorang guru sangat 

diperlukan pula bagi para wali peserta didik, sebab para wali peserta didik 

tersebut sudah mempercayakan kepada seorang guru agar mampu 

mendidik, mengajar, dan membimbing anaknya. Bukan hanya sampai 

disitu, guru disini juga harus memiliki etika terhadap para rekan 

sejawatnya, karena guru ini akan berkumpul dengan rekan-rekan sesama 

guru dalam mendidik, mengajar, dan membimbing para muridnya. Karena 

sangat pentingnya kedudukan guru disini, tentu untuk menjaga hubungan 

tersebut diperlukanlah etika guru itu se ndiri. Maka, untuk mengetahui 

2

lebih jelas terkait etika guru, di dalam makalah ini penulis akan sedikit 

mengulasnya.

B.  Rumusan Masalah

1.  Apa Yang Dimaksud Dengan Guru?

2.  Apa Yang Dimaksud Dengan Masyarakat?

3.  Bagaimana Etika Guru Terhadap Masyarakat?

C.  Tujuan

1.  Untuk Mengetahui Pengertian Guru.

2.  Untuk Mengetahui Pengertian Masyarakat.

3.  Untuk Mengetahui Etika Guru Terhadap Masyarakat.

3

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Guru

Menurut karwati dan priansa Guru adalah  fasilitator utama 

disekolah, yang berfungsi untuk menggali, mengembangkan, 

mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sehingga menjadi bagian 

masyarakat yang beradab. Menurut Sanjaya guru merupakan orang yang 

secara langsung berhadapan dengan sistem pembelajaran guru dapat 

berperan sebagai perencanaan, desainer berperan sebagai implementator 

atau mungkin keduanya. Di dalam masyarakat, dari yang paling 

terbelakang sampai yang paling maju,guru memegang peranan penting. 

Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga 

masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar 

(penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, 

pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat 

memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah 

ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa guru sebagai orang yang 

bertugas terkait dengan upaya mencerdaskan kedidupan bangsa dalam 

semua aspeknya melalui mengoptimalan berbagai potensi yang dimiliki 

oelh peserta didik.1

Tugas guru dalam proses belajar mengajar menurut Sabri Guru 

merupakan memegang peranan utama dalam proses belajar mengajar. 

Proses belajar mengajar merupaka suatu proses yang mengandung 

serangkaian perbuatan guru dan siswa atau dasar hubungan timbal balik 

yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan.Seorang 

guru memiliki banyak tugas jika dikelompokan tugas guru berupa tugas 

dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan dan tugas dalam bidang 

kemasyarakatan. 

1  Heriyansyah,  Guru Adalah Manajer Sesungguhnya di Sekolah,  Jurnal Manajemen 

Pendidikan Islam, Vol. 1, No. 1, Januari 2018, 118.  

4

Tugas guru dalam proses belajar meliputi tugas paedagogis dan 

tugas administrasi. Tugas paedagogis merupakan tugas membimbing dan 

memimpin. 

1.  Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. 

Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. 

Mengajar berarti meneruskan  dan mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

2.  Tugas guru bidang kemanusiaan disekolah harus dapat menjadikan 

dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati 

sehingga ia menjadi idola para siswanya.Masyarakat menempatkan 

guru sebagai orang yang lebih terhormat dilingkungan karena dari 

seorang guru diharpkan masyarakat dapat memperoleh ilmu 

pengetahuan.

Tugas guru tidak hanya sebatas didalam masyarakat, bahkan guru 

pada hakikatnya merupakan komponen strategi yang memilih peran yang 

penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.Sabri Sebagai 

yang dikemukakan diatas perkembangan baru terhadap pandangan belajar 

mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peran 

dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa 

sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. 2

B.  Pengertian Masyarakat

Salah satu definisi dari masyarakat pada awalnya adalah " a union 

of families" atau masyarakat merupakan gabungan atau kumpulan dari 

keluarga-keluarga. Awal dari masyarakat pun dapat kita katakan berasal 

dari hubungan antar individu, kemudian kelompok yang lebih membesar 

lagi menjadi suatu kelompok besar orang-orang  yang disebut dengan 

masyarakat. 

2  Maulana Akbar Sanjani, Tugas dan Peranan Guru Dalam Proses Peningkatan Belajar 

Mengajar, Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan, Vol.6, No.1, Juni 2020, 36-37.  

5

Menurut (Khairuddin, 2008). Masyarakat adalah suatu kesatuan 

yang selalu berubah yang hidup karena proses masyarakat. Masyarakat 

terbentuk melalui hasil interaksi yang kontinyu antar individu. Dalam 

kehidupan bermasyarakat selalu dijumpai saling pengaruh mempengaruhi 

antar kehidupan individu  dengan kehidupan bermasyarakat. Menurut 

Istilah Masyarakat atau  Society  artinya tidak diberikan ciri-ciri atau ruang 

lingkup tertentu yang dapat dijadikan pegangan, untuk mengadakan suatu 

analisa secara ilmiah. Istilah masyarakat mencakup masyarakat sederhana 

yang buta huruf, sampai pada masyarakat-masyarakat industrial moderen 

yang merupakan suatu negara. Istilah masyarakat juga digunakan untuk 

menggambar kelompok manusia yang besar, sampai pada kelompok-kelompok kecil yang terorganisasi.

Menurut Soekanto  Definisi Masyarakat adalah golongan besar atau 

kecil yang terdiri dari beberapa manusia yang dengan atau karena 

sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu 

sama lain. Istilah Masyarakat kadang-kadang digunakan dalam artian 

"gesellaachafi" atau sebagai asosiasi manusia yang ingin mencapai tujuan-tujuan tertentu yang terbatas isinya, sehingga direncanakan pembentukan 

organisasiorganisasi tertentu. 

Menurut  Soekanto  Masyarakat adalah kelompok manusia yang 

sengaja dibentuk secara rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan 

tertentu. Suatu totalitas dari orang-orang yang saling tergantung dan yang 

mengembangkan suatu kebudayaan tersendiri juga disebut masyarakat. 

Walaupun penggunaan istilah-istilah masyarakat masih sangat samar -samar dan umum, akan tetapi hal itu dapat dianggap indikasi dari hakikat 

manusia yang senantiasa ingin hidup bersama dengan orang-orang lain. 

Bagaimanapun juga penggunaan istilah masyarakat tak akan mungkin 

dilepas dari nila-nilai, norma-norma tradisi, kepentingan-kepentingan, dan 

lain sebagainya. Oleh karena itu pengertian masyarakat tak mungkin 

dipisahkan dari kebudayaan dan kepribadian   

6

Berdasarkan pengertian menurut pendapat diatas maka dapat 

disimpulkan masyarakat adalah hubungan satu orang/sekelompok 

orangorang  yang hidup secara mengelompok maupun individu dan 

berinteraksi satu sama lain saling pengaruh dan mempengaruhi 

menimbulkan perubahan sosial dalam kehidupan. 3

C.  Etika Guru Terhadap Masyarakat

Sekolah berada ditengah-tengah masyarakat  yang berfungsi 

menjaga kelestarian nilai-nilai yang positif yang ada dalam masyarakat, 

agar perwarisan nilai-nilai masyarakat itu berlangsung dengan baik dan 

sekolah sebagai lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan 

tradisi itu sesuai dengan kemajuan dan tuntutan kehidupan  serta 

pembangunan oleh sebab itu diperlukan saling pemahaman antara sekolah 

dan masyarakat. Adapun etika guru terhadap masyarakat adalah:

1.  Guru hendaknya selalu berusaha berpartisipasi terhadap 

lembaga serta organisasi-organisasi di dalam masyarakat yang 

berhubungan dengan usaha pendidikan, sebab pada hakekatnya 

pendidikan itu merupakan tugas pembangunan masyarakat dan 

kemanusiaan.

2.   Guru hendaknya melayani dan membantu memecahkan 

masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat sesuai fungsi 

dan kemampuannya.

3.  Guru hendaknya menghormati dan menyesuaikan diri dengan 

adat kebiasaan masyarakat dengan sikap membangun.4 

4.  Guru menjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis, 

efektif, dan efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan 

mengembangkan pendidikan.

3  Anang Sugeng Cahyono,  Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial 

Masyarakat di Indonesia, Jurnal Bonorowo, Vol. 2, No. 1, 2014, 149.  

4  Zulhimma,  Eksistensi Etika Profesi Keguruan Dalam Dunia Pendidikan,  (Bandung: 

Alfabeta, 2015), 108. 

7

5.  Guru  mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam 

mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan 

pembelajaran.

6.  Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam 

masyarakat.

7.  Guru bekerja sama secara arif dengan masyarakat untuk 

meningkatkan prestise dan martabat profesinya.

8.  Guru melakukan semua usaha untuk bersama-sama dengan 

masyarakat berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan 

kesejahteraan siswanya.

9.  Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi 

nilai-nilai agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam 

berhubungan dengan masyarakat.

10.  Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan siswanya 

kepada masyarakat.

11.  Guru tidak boleh menampilkan diri secara eksklusif dalam 

kehidupan masyarakat.5 

12.  Menjadi teladan bagi masyarakat

Hendaknya kita  menyadari bahwa tugas dan kewajiban untuk 

mendidik bangsa tidak sebatas lingkungan sekolah saja. Secara 

moral tugas dan kewajiban itu kita bawa selamanya ke 

manapun kita pergi. Tidak berarti usai bel berakhir berdentang 

usai segalanya. Justru kita sedang memasuki tugas dan 

kewajiban baru di tengah-tengah masyarakat.  Kalau di depan 

anak didik kita harus bisa menampilkan sikap dan perilaku 

yang patut diteladani, begitu pula di tengah-tengah masyarakat. 

Keteladanan itu merupakan kunci membuka diri kita agar bisa 

diterima dengan baik oleh masyarakat. Di sisi lain kita harus 

menyadari bahwa keteladanan itu merupakan dambaan 

5  Jamil Suprihatiningrum, Guru  Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan 

Kompetensi Guru (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 87-88. 

8

masyarakat. Mereka selalu berharap guru berperan lebih nyata 

di tengah masyarakat.6

13.  Memiliki sifat andap asor

Kita lebih mudah diterima oleh  masyarakat apabila memiliki 

sifat apabila kita menampilkan sikap dan perilaku yang andap 

asor. Berendah hati itu akan selalu membawa keberuntungan, 

masyarakat menyukai pribadi-pribadi yang berendah hati. 

Berendah hatilah karena itulah yang seharusnya kita  lakukan.

Belajarlah pada tanaman padi, semakin berisi semakin tunduk. 

Sadarlah bahwa ketika masyarakat melihat sosok seorang guru 

citra yang melekat padanya adalah sosok yang berilmu. Orang 

yang tinggi ilmunya akan berusaha menyembunyikan ilmunya 

dalam-dalam sehingga sikap dan perilakunya andap asor. 

Sebaliknya orang yang ilmunya hanya seujung kuku 

alias cethek biasanya suka memamerkan diri.

14.  Mau bergaul dengan masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial, kita semua tahu, kita 

semua saling membutuhkan, tidak mu ngkin seorang manusia 

mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. 

Sebagai makhluk sosial, interaksi antar sesama menjadi 

kebutuhan mutlak, walaupun setiap manusia memiliki ego, 

namun pada saat-saat tertentu ego harus ditinggalkan.  Semua 

guru yang baik semestinya pandai bergaul, ia tidak boleh 

menutup diri seolah-olah tidak membutuhkan masyarakat 

sekitarnya. Ia harus mau srawung dengan masyarakat 

sekitarnya, karena dirinya merupakan bagian dari masyarakat 

itu sendiri. Boleh-boleh saja ia menjaga privasinya, namun 

hendaknya tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

6  Soejitno  Irhim, Menjadi Guru yang Digugu dan Ditiru. (Jakarta: Seyma Media, 2006), 

151-152 

9

Ia akan membaurkann dirinya ke tengah-tengah 

masyarakat. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari 

masyarakatnya. Seorang guru yang menyadari bahwa dirinya 

dibutuhkan untuk  berperan, tidak akan melarikan dari 

kewajiban moralnya. Justru di tengah-tengah masyarakat itulah 

ia bisa menampilkan dirinya secara utuh, secara moral ia tetap 

seorang guru di luar lingkup sekolah.  Rasanya kurang etis jika 

ada guru yang tidak mau bergaul  dengan masyarakat 

sekitarnya. Padahal sebagai seorang guru harusnya bisa 

membawa perubahan ke arah yang lebih baik di tengah 

masyarakatnya, tidak malah mementingkan dirinya sendiri 

dengan tidak mau tahu kebutuhan masyarakatnya. Ada 

perasaan kurang pas jika  ada guru yang bersikap 

individualistis.

15.  Tidak suka pamer

Ditengah-tengah masyarakat yang menjunjung tinggi 

perbedaan, sikap pamer merupakan perilaku yang kurang 

terpuji. Pamer hanya akan menciptakan situasi yang tidak 

diinginkan, tidak ada orang yang suka  kepada orang yang suka 

memamerkan diri secara berlebihan.

Sifat pamer sebenarnya menunjukkan bahwa yang 

bersangkutan tidak memiliki rasa percaya diri. Disamping itu 

sikap pamer menunjukkan yang bersangkutan ingin diakui 

lebih hebat dari orang lain. Ia tidak mau ada orang lain yang 

mengalahkan dirinya baik soal kepandaian, kekayaan, pangkat, 

dan sebagainya. Orang yang suka pamer membuktikan bahwa 

dirinya kurang pandai menempatkan dirinya di tengah-tengah 

masyarakat. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, 

kiranya ini sudah cukup untuk menangkal setiap keinginan kita 

untuk memamerkan diri.

16.  Peduli terhadap acara lingkungan 

10

Berbicara tentang kepedulian, harus kita akui bahwa para 

guru memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungannya. 

Banyak sekali  bapak guru kita yang menjadi tokoh terpandang 

di tengah masyarakat karena kepeduliannya yang tinggi 

terhadap lingkungan.

Semua itu membuktikan bahwa para pendidik kita masih 

menjadi tumpuan masa depan bangsa. Di pundak merekalah 

kita berharap banyak, mereka memikul tanggung jawab besar 

dibanding dengan tingkat kesejahteraannya. Kita (yang bukan 

guru) seharusnya memiliki kekaguman dan rasa malu karena 

jerih payah mereka selama  ini yang tak kenal keluh kesah. 

17.  Tidak pelit demi kepentingan lingkungan

Pelit, kikir atau medit termasuk perilaku yang tercela. 

Orang yang dihatinya masih tumbuh bibit-bibit kepelitan akan 

susah bergaul dengan masyarakat luas, sebab orang yang pelit 

akan dijauhi. Orang yang pelit juga mencerminkan bahwa yang 

bersangkutan hanya mau seenaknya sendiri tanpa mau 

memikirkan kepentingan orang lain.

Banyak orang yang tidak memahami bahwa jika dirinya 

pelit sebenarnya merugikan dirinya sendiri, bukan malah 

menguntungkan. Kelihatannya menguntungkan, tetapi 

sebenarnya tidak. Ada beberapa kerugian  jika seseorang 

bersikap pelit  yaitu sebagai berikut:

a.  Ia pasti akan dibenci dan dimusuhi tetangganya.

b.  Kalau membutuhkan bantuan ia tidak akan ditanggapi oleh 

tetangganya.

c.   Tuhan membenci hamba-Nya yang pelit.7

7 Ibid. 166-167.  

11

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan 

1.  Guru adalah  fasilitator utama disekolah, yang berfungsi untuk 

menggali, mengembangkan, mengoptimalkan potensi yang dimilikinya 

sehingga menjadi bagian masyarakat yang beradab. Menurut Sanjaya 

guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan 

sistem pembelajaran guru dapat berperan sebagai perencanaan, 

desainer berperan sebagai implementator atau mungkin keduanya.

2.  Masyarakat adalah kelompok manusia yang sengaja dibentuk secara 

rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Suatu 

totalitas dari orang-orang yang saling tergantung dan yang 

mengembangkan suatu kebudayaan tersendiri juga disebut masyarakat. 

Walaupun penggunaan istilah-istilah masyarakat masih sangat samar -samar dan umum, akan tetapi hal itu dapat dianggap indikasi dari 

hakikat manusia yang senantiasa ingin hidup bersama dengan orang-orang lain.

3.  Terdapat beberapa etika guru terhadap masyarakat yaitu:

a.  Guru hendaknya selalu berusaha berpartisipasi terhadap lembaga 

serta organisasi-organisasi di dalam masyarakat.

b.  Guru hendaknya melayani dan membantu memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat sesuai fungsi dan 

kemampuannya.

c.  Guru hendaknya menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat 

kebiasaan masyarakat dengan sikap membangun.

12

DAFTAR PUSTAKA

Akbar Sanjani,  Maulana. 2020,  Tugas dan Peranan Guru Dalam Proses 

Peningkatan Belajar Mengajar, Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan, Vol.6, No.1.

Heriyansyah.  2018,  Guru Adalah Manajer Sesungguhnya di Sekolah,

Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 1, No. 1.

Irhim,  Soejitno. 2006,   Menjadi  Guru yang Digugu dan Ditiru. Jakarta, 

Seyma Media.

Suprihatiningrum,  Jamil. 2013, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, 

Kualifikasi, dan Kompetensi Guru, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media.

Sugeng Cahyono,  Anang. 2014,  Pengaruh Media Sosial Terhadap

Perubahan Sosial Masyarakat di Indonesia, Jurnal Bonorowo, Vol. 2, No. 1.

Zulhimma. 2015,  Eksistensi Etika Profesi Keguruan Dalam Dunia 

Pendidikan, Bandung, Alfabeta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DESKRIPSI MATA KULIAH ETIKA DAN PROFESI KEGURUAN

   PETA KONSEP ETIKA DAN PROFESI KEGURUAN Pengertian Etika dan Profesi Keguruan Menurut Para Ahli Guru merupakan salah satu pemodal pendidik...